Konflik dalam perusahaan dan cara mengatasinya


Konflik Uber Taksi: Perusahaan Asing VS Perusahaan Lokal / Transportasi Online VS Transportasi Konvensional

konflik Uber di Indonesia ini sebenarnya sederhana. Pertama, Uber adalah musuh besar perusahaan taksi dimanapun. Fitur yang diberikan oleh Uber begitu hebatnya hingga sulit bagi konsumen (di negara-negara maju) untuk tidak menggunakan. Mereka tumbuh cepat di Amerika dan mendunia dalam waktu yang terbilang sangat singkat. Teknologi mereka disebut disruptive, sebuah solusi baru yang menggantikan solusi usang yang puluhan tahun ada dan tidak berubah. 

Melihat sejarah tersebut, tak heran jika perusahaan taksi di Indonesia ingin agar api yang masih kecil ini tidak membesar dengan cepat. Kalau perlu, api ini dimusnahkan sepenuhnya. Kerena jika mereka lengah dan terlanjur membesar, bisa-bisa sudah tidak terhentikan lagi.

Sejak awal langkah untuk menggembosi Uber sudah terlihat. Yang paling “kasar” adalah ketika 5 pengemudi taksi Uber dijebak untuk mengantar tamu ke Polda Metro Jaya dan ditangkap. Siapa yang melakukan ini? tak lain adalah Organisasi Angkutan Darat DKI (Organda).

Mengapa Organda terlihat begitu vokal menentang Uber? Bisa kita lihat dari Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) 2015-2020 Adrianto Djokosoetono yang tak lain adalah Direktur Blue Bird Group. Tentu saja sangat wajar jika Adrianto ingin menjaga agar bisnis taksi, tidak hanya Blue Bird Group, namun juga perusahaan taksi lainnya tetap terjamin. Ini juga terlihat bagaimana pembedaan antara Uber dengan Grab Taxi. Grab Taxi diperbolehkan tentu saja karena salah satunya karena masih melibatkan “taksi”.

Karena, dampak Uber, menurut dilapangan dengan mewawancarai sopir Uber dan taksi biasa, sangat terasa. Seorang sopir Uber yang mantan sopir Blue Bird menuturkan bahwa hampir sebagian besar sopir di poolnya mengunduran diri untuk bergabung ke Uber. Dan tidak hanya Uber, melainkan juga perusahaan teknologi disruptive lainnya seperti Gojek.

Organda menyerang Gojek karena sekali lagi menurut pengamatan saya di lapangan, Gojek walaupun berbeda moda transportasi, tapi juga berdampak besar terhadap peralihan penumpang maupun sopir taksi yang keluar dan bergabung ke Gojek.

Hanya saja, saat ini Gojek sedang diatas angin. Perusahaan lokal tersebut dipuji mampu memberikan layanan luar biasa dalam transportasi. Langkah Organda menyerang Gojek justru semakin menunjukkan cara mereka yang tidak elegan dan kasar.

Ada dua hal yang harus kita garis bawahi. Pertama, membendung kemajuan teknologi memang bukanlah langkah yang bijak. Tapi disisi lain, teknologi yang sifatnya disruptive sendiri tidak akan lepas dari friksi atau gesekan. Jadi, memang wajar jika layanan seperti Uber ini mendapat gesekan. Karena gesekan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia.

SOLUSI – SOLUSI YANG HARUS DILAKUKAN DALAM KASUS DI ATAS, YAITU :

1.      Menganalisa konflik
Ada beberapa hal yang harus Anda lakukan untuk mengatasi konflik yang ada dalam perusahaan, salah satunya adalah dengan menganalisa konflik. Kita perlu mengetahui masalah apa yang sebenarnya sedang terjadi dan bagaimana cara menyelesaikannya. Dengan begitu kita tahu pasti seperti apa dan bagaiman menyelesaikan masalah yang sedang terjadi.

2.      Dengarkan permasalahan dari kedua belah pihak.
Untuk memberikan solusi yang tepat, pemimpin harus tahu persoalan dari berbagai sisi. Dengarkan versi masalah dari tiap karyawan yang terlibat. Membiarkan mereka mengeluarkan pendapat dan perasaan, membantu menenangkan mereka agar lebih siap untuk berkompromi dan negosiasi.

3.      Tunjukkan empati kepada kedua belah pihak.
Tunjukkan bahwa pemimipin mengerti situasi yang sedang terjadi. Hal ini tidak berarti harus setuju dengan pendapat karyawan, tapi harus mengerti maslah duduk persoalan.

4.      Fokus pada masalah, bukan pada pribadi yang bermasalah.
Ingatkan dan jaga agar mereka tetap fokus pada masalah yang sedang dihadapi pada saat ini, tanpa mengaitkan masalah dengan hal-hal yang tidak relevan. Hal ini juga berlaku untuk seorang pemimpin.

5.      Tanyakan pendapat mereka.
Tanyakan apa menurut mereka yang diperlukan untuk memecahkan masalah. Apakah mereka bersedia untuk mendiskusikan masalah mereka? Apakah mereka bersedia untuk melihat permasalahan dari sudut pandang orang lain? Apa solusi yang diusulkan dari masing-masing pihak?

6.      Memberi solusi yang baik.
Tuntun tiap pihak untuk mendapatkan consensus akan konflik mereka. Yakinkan mereka bahwa negosiasi dan kompromi adalah hal yang harus dilakukan untuk mendapatkan solusi yang baik.

7.      Buat keputusan.
Setelah solusi didapat, buatlah keputusan yang jelas dan tegas, lalu tetap monitor situasi dan perkembangan pasca konflik.

8.      Penyelesaian akhir dari konflik
Setelah mengetahui pasti konflik yang terjadi, sekarang saatnya Anda meenyelesaikan masalah yang ada secepat mungkin. Semakin cepat maka semakin baik pula sehingga tidak menyeret beberapa permasalahan lain dan Anda pun bisa beralih untuk mengatasi masalah lainnya.

sumber: https://faisalfahruroji.wordpress.com/2016/05/26/konflik-dalam-perusahaan/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PT. Media Nusantara citra Tbk

SISTEM INFORMASI AKUNTANSI (SIA)

Klasifikasi gaya kepemimpinan disuatu perusahaan